Setiap tahun, ayah angkat
saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim.
Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan
Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti
asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.
Ketika berkunjung ke salah
satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah manis dan lucu.
Dia masih sekolah kelas nol besar.
”Siapa namamu nak?” sapa
ayah saya.
”Nama saya Nina Om”,
jawabnya manja.
”Nina sudah punya sepatu
baru?” tanya ayah saya.
”Sudah om, dikasih Abah
(pemimpin panti-penulis). Nina juga sudah punya baju baru.” urai Nina.
“Kalau begitu Nina mau apa?”
tanya ayah saya.
“Nggak ah… ntar Om marah”
jawab Nina.
“Nggak sayang, Om nggak akan
marah,” ayah saya menimpali.
”Nggak ah… ntar Om marah”
Nina mengulang jawabannya.
Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa
keingintahuan ayah saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.
”Ayo Nak katakan apa yang
kamu minta, sayang.” pinta ayah saya.
”Tapi janji ya Om tidak
marah?” jawab Nina manja.
”Om janji tidak akan marah,
sayang,” tegas ayah saya.
”Bener Om nggak akan marah?”
sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala.
Nina menatap tajam wajah
ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, ‘Seberapa mahal sich yang bocah kecil
ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’.
Sambil tersenyum Ayah mengatakan
“Ayo Nak, katakan, jangan
takut, Om tidak akan marah Nak.”
”Bener ya Om nggak marah?,”
ujar Nina sambil terus menatap wajah ayah saya. Sekali lagi ayah saya
menganggukkan kepala.
Dengan wajah berharap-harap
cemas, Nina mengajukan permintaanya
”Mmmm, boleh gak mulai malam
ini saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?. Nina sedih gak punya ayah”
Mendengar jawaban itu, Ayah
saya tak kuasa membendung air matanya. Segera dia peluk Nina, ”Tentu Anakku..
tentu Anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om”.
Sambil memeluk erat ayah
saya, dengan terisak Nina berkata
”Terima kasih ayah… Terima
kasih ayah..”.
Hari itu, adalah hari yang
takkan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk
bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu
berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada
Nina,
”Anakku, sebelum lebaran
nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu dan kakak-kakakmu, apa yang kamu
minta nak?”
”Kan udah tadi, Nina sudah
boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.
”Nina masih boleh minta lagi
sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan Ayah
kasih.” jelas Ayah saya.
”Nanti kalau ayah datang
sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng yang ada Ayah, Ibu dan
kakak-kakak Nina, boleh kan Ayah?” Nina memohon sambil memegang tangan Ayah.
Tiba-tiba kaki Ayah lunglai.
Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya,
”Buat apa foto itu Nak?”
“Nina ingin tunjukkan sama
temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak
Nina.”
Ayah saya memeluk Nina
semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru
kehidupannya di hari itu.
Terima kasih Nina. Meski
usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi
cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu
yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna.
Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia.
(Cerita ini saya kutip dari
buku kedua saya: Menyemai Impian Meraih SuksesMulia, terbitan Gramedia.
Merupakan pengalaman nyata orang tua angkat saya. Salam SuksesMulia. Jamil
Azzaini)
