Memaafkan adalah salah satu perbuatan yang sangat mulia, sehingga Allah SWT berjanji akan memberikan balasan surga yang luasnya seluas langit dan bumi sebagaimana firmanya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS Ali Imran : 133-134)
Nabi Muhammadpun juga memerintahkan kepada kita agar segera meminta maaf apabila kita melakukan kesalahan pada orang lain sebagaimana sabdanya, “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a)
Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ada seorang pria bertanya; Ya Rasulullah, aku punya banyak kerabat dan aku berusaha menyambung (silaturahim) mereka, namun mereka memutuskan (silaturahim) kepadaku. Dan aku tetap berusaha baik kepada mereka, namun mereka membalasnya dengan keburukan terhadap aku. Dan aku selalu sabar menghadapi mereka, sedangkan mereka terus menyakitiku. Beliau bersabda: “Jika keadaanmu seperti apa yang kamu katakan, maka itu seolah-olah kamu memberikan abu panas kepada mereka. Dan kamu akan tetap ditolong Allah selama kamu tetap berbuat demikian.” (HR. Muslim)
Misthah bin Atsatsah adalah kerabat dari Abu Bakar As-Shiddiq yang selalu mendapat bantuan nafkah dari Abu Bakar As-Shiddiq. Ketika terjadi peristiwa berita bohong yang mengabarkan bahwa Aisyiah (putri Abu Bakar As-Shiddiq) yang merupakan istri Rasulullah telah berselingkuh dengan Shafwan Ibnu Mu'aththal, Misthah bin Atsatsah adalah salah satu orang yang ikut menyebarkan berita bohong itu. Sangat manusiawi dan wajar apabila Abu Bakar As-Shiddiq begitu kecewa bahkan marah kepada Misthah bin Atsatsah yang selama ini dicukupi nafkahnya oleh Abu Bakar, bahkan Abu Bakar sampai bersumpah untuk menghentikan bantuan yang biasanya diberikan kepada Misthah. Namun Allah SWT tidak berkenan dengan sumpah yang dilakukan oleh Abu Bakar, sehingga peristiwa inipun menjadi sebab turunnya Surat An Nuur ayat 22, “Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan mem beri (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berla pang dada. Apakah ka mu tidak ingin agar Allah mengampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Memaafkan kesalahan seseorang adalah tanda orang yang bertakwa. Wajib memberi maaf jika telah diminta dan lebih baik lagi memaafkan meskipun tidak diminta.
Sifat “tak kenal maaf” atau “tiada maaf bagimu’ adalah sifat syaitan”. Ia akan membawa keretakan dan kerusakan dalam pergaulan bermasyarakat. Masyarakat aman damai akan terwujud jika anggota masyarakat itu memiliki sikap pemaaf dan mengerti bahwa manusia tidak terlepas dari pada salah dan alpa.
Imam Al-Ghazali memberi panduan untuk memadamkan api kemarahan dan melahirkan sifat pemaaf. Apabila marah hendaklah mengucap “A’uzubillahiminassyaitanirrajim” (aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang dirajam).
Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama Muslim dan lapang dada terhadap kesalahan orang merupakan amal shaleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh”. (QS Al-A’raf:199)
Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (Ali Imran : 159)
Itulah betapa mulia dan indahnya memaafkan dalam syariat Islam. Semoga kita menjadi pribadi yang pemaaf. Wallahu a’lam bishshawab.
